Pecahan-Pecahan Goresan Hitam
CERPEN Agustus 2016
Bapak
Pinjami Aku Hatimu
Oleh : Nonik Soedirman
Credit Foto
Suara burung terdengar seperti irama pengiring tidur, selaras
rasanya ditemani dendangan ombak kecil, berdenting sangat lembut alunannya.
Daun jatuh yang tertiup angin terlihat
melambai-lambai. Pesisir pantai yang sangat rindang dan damai. Sayangnya, matahari
mulai meredupkan sinarnya, sebab senja
akan segera tiba. Namun kakiku belum juga beranjak pergi dari suasana ini, suara
pantai menyeruku untuk tetap disini, menemani sepi dan kebingunganku setiap
hari. Aku juga butuh teman dan butuh tenang.
Namaku Adelwis, gadis kecil berambut hitam berkulit
kuning langsat. Aku tinggal di sebuah gubuk kecil dekat pantai, tinggal bersama
Bapak terkadang bersama Mamak. Mereka sudah lama berpisah, Mamak sudah menikah
lagi dengan tetangga desa, tapi terkadang singgah di rumah kami sekedar mampir,
atau menginap saat Bapak lagi sibuk berlayar tengah malam. Bapak masih duda,
tanpa ada wanita yang menemani kecuali aku. Tubuhnya sudah renta, hari demi
hari bergilir, Bapak semakin menua. Uban sudah mulai menumbuh di sela-sela
helai rambutnya, pendengarannya juga mulai mengurang. Mataku sembab bila
mendengar Bapak mengeluh sakit-sakitan, terlebih sakit punggung. Itu yang
sering Bapak rasakan seusai melaut.
Waktu melaut dijalaninya dari senja hingga fajar tiba,
itulah Bapak. Lakonnya hanya mencari ikan di laut, upahnya tak seberapa, cukup
untuk makan dan minum. Pekerjaan ini sangatlah bersaing juga mengandalkan
keberuntungan. Terkadang dapat banyak atau tidak sama sekali, hujan dan
dinginnya malam sudah biasa Bapak lakoni. Cukup rumit tapi Bapak tetap saja
melakoni pekerjaan itu, katanya “Bersyukur masih dapat kerja Nak!” (sambil
tersenyum)
Selama ini Bapak tidak pernah mengajakku melaut, aku
jadi penasaran bagaimana rasanya melaut seperti Bapak. Terlalu berbahaya anak
perempuan keluar malam, terkena dinginnya udara malam, begadang pula.
Senja tiba, Saat menunggu Mamak datang ke rumah,
sembari Bapak menyiapkan alat melautya. Mulai memikul jaring-jaring yang sudah
ia bersihkan tadi, menyiapkan lentera, sarung, dan tak lupa juga topi jerami
kesayangannya.
“Bapak? Aku boleh ikut Bapak mencari ikan? Jenuh Pak,
Delwis dirumah terus.” Tanyaku pada Bapak, memegang tangannya.
“Cukup singgah dirumah Delwis, Mamakmu akan datang
menemanimu sebentar lagi.” jelas Bapak dengan tenang
Tak lama kemudian Mamakpun datang, Bapak langsung
beranjak pergi melaut, “Jaga Delwis, baik-baik.” Pamit Bapak. Mamak hanya
mengangguk tanpa menolehnya.
Di rumah, kami malah saling diam, aku tak tahu apa
yang harus aku ceritakan dan tanyakan, rasanya takut. Yang kulihat dulu dan
sekarang, sifat Mamak berbeda, lebih banyak diam lalu marah-marah.
“Dulu kan Mamak pernah mengajarimu untuk tidak berlaku
kotor, ini kenapa dapur bersimbah debu Del?” Tegur Mamak padaku, sekejap Ia
bilang “Del? Cuci bajumu sendiri… jangan nunggu Bapakmu pulang”. Jeda sebentar
“Kalau seperti ini namanya, wanita pemalas”.
Aku hanya diam,
menundukkan kepala.
Jenuh dirumah, aku keluar rumah ingin bermain dengan
teman-temanku. Aisfa, Tulip, dan Nuri, “Delwis! Sini!” terdengar Nuri
memanggilku dari jauh, aku hanya menoleh dan lari ke sumber suara. Kami pergi
ke sebuah gajebo kecil, disitu kami bercerita-cerita, tertawa bersenda gurau.
Namun keadaan berubah saat Teratai datang, ia datang dan bercerita buruk
tentang Bapak,
“Tau nggak? Bapakmu itu punya banyak utang sama Papa
aku, tapi waktu di tagih, nggak dikasih-kasih, gara-gara Papamu itu! Aku jadi
gagal pergi nyusul Kakakku.” Tegas Tera menatapku,
Aku paling benci siapapun yang mengusik tentang Bapak,
turun dari gajebo lalu sontak saja tanganku memukulnya “Jangan pernah hina
Bapak, Bapak nggak ada kaitan sama Kamu!!!” Tegasku,
Dia menangis lalu lari, aku menoleh ke gajebo itu
teman-temanku terlihat takut, lalu aku menghampiri mereka, tapi mereka malah
lari. Tiba-tiba kepalaku pusing, kepalaku sekejap mengingat masa lalu saat
Mamak dan Bapak bertengkar, akupun bersender di bawah pohon Kelapa.
Hari sudah mulai petang, Mamak pasti mencariku, akupun
melangkah menuju rumah, di sepanjang jalan anak-anak lain bilang “Jangan temani
dia, dia galak sama kayak Mamaknya.” Lagi “Nak jangan dekat-dekat dia, dia anak
nakal” Aku hanya melototi mereka. Sampai dirumah, Mamak terlihat melotot
padaku tiba-tiba, Plakkk.. Plakk… Mamak
memukuliku “Kamu apakan anak Bos itu? Hei Jawab? Kamu? Siapa berani-berani
memukulinya, ini balasannya ya!” Tegasnya sambil memukulku, aku lirih menangis
dan bilang “Ampun Mak! Ampun Mak!”. Malam itu Mamak langsung pulang
meninggalkanku. Sepi rasanya, sakit semua badanku, lirih rasanya nafasku.
Bapak? Cepat pulang aku lelah pak.
Pagi tiba saat Bapak
pulang, melihatku “Loh.. Delwis. Ini kenapa mukamu memar?” Aku menangis “Bapak,
Delwis sakit, Mamak memukulku lagi” ku peluk Bapak. Seharian Bapak mengompres
lukaku lalu menyuapiku dengan segenggem nasi jagung.
“Bapak? Kenapa waktu dulu Mamak memukul Bapak, Bapak
nggak balas? Tidak sakit ya pak?” tanyaku. “Nak? Bapak pernah melakukan
kesalahan pada Mamakmu, sudah sepatutnya Bapak begini. Yang penting tidak ada
dendam dan benci dari Bapak padanya.” Jelas Bapak. “Sabar, harus kuat”.
Bapak hari ini tidak melaut, dia lebih memilih
menemaniku, karena tidak ada yang menjagaku, Mamak tidak mau menemani malam
ini. Krik… krik.. krik… suara jangkrik malam hari, aku bersandar di samping
Bapak, yang sedang berlibur melaut hari ini. “Bapak? Kenapa Delwis hidup
seperti ini?” ucapku sembari tidur di pangkuan Bapak. “Delwis, anak Bapak yang
kuat dan tangguh, seharusnya kamu biarkan mereka berbicara semau mereka, mereka
tidak tahu hidupmu seperti apa, sabar ya Nak! Tuhan Memiliki rencana lebih indah
untukmu.” Ujar Bapak sambil mengelus-elus rambutku.
Bapak? Pinjami aku hatimu, agar aku tahu rasanya
bersabar dan kuat mengahadapi semua masalah, agar aku belajar menjalani hidup
tanpa rasa benci sedikitpun terhadap siapapun yang mencelaku, agar aku bisa
berjuang tak mengenal kata menyerah, agar aku bisa terus bersyukur dengan
adanya karunia Tuhan yang terindah, yaitu engkau Bapak.

0 komentar:
Posting Komentar