Minggu, 21 Agustus 2016

| | 0 komentar

Pecahan-Pecahan Goresan Hitam




CERPEN Agustus 2016



Bapak Pinjami Aku Hatimu
Oleh : Nonik Soedirman


Credit Foto

 
Suara burung terdengar seperti irama pengiring tidur, selaras rasanya ditemani dendangan ombak kecil, berdenting sangat lembut alunannya. Daun jatuh yang tertiup angin  terlihat melambai-lambai. Pesisir pantai yang sangat rindang dan damai. Sayangnya, matahari  mulai meredupkan sinarnya, sebab senja akan segera tiba. Namun kakiku belum juga beranjak pergi dari suasana ini, suara pantai menyeruku untuk tetap disini, menemani sepi dan kebingunganku setiap hari. Aku juga butuh teman dan butuh tenang.
Namaku Adelwis, gadis kecil berambut hitam berkulit kuning langsat. Aku tinggal di sebuah gubuk kecil dekat pantai, tinggal bersama Bapak terkadang bersama Mamak. Mereka sudah lama berpisah, Mamak sudah menikah lagi dengan tetangga desa, tapi terkadang singgah di rumah kami sekedar mampir, atau menginap saat Bapak lagi sibuk berlayar tengah malam. Bapak masih duda, tanpa ada wanita yang menemani kecuali aku. Tubuhnya sudah renta, hari demi hari bergilir, Bapak semakin menua. Uban sudah mulai menumbuh di sela-sela helai rambutnya, pendengarannya juga mulai mengurang. Mataku sembab bila mendengar Bapak mengeluh sakit-sakitan, terlebih sakit punggung. Itu yang sering Bapak rasakan seusai melaut.
Waktu melaut dijalaninya dari senja hingga fajar tiba, itulah Bapak. Lakonnya hanya mencari ikan di laut, upahnya tak seberapa, cukup untuk makan dan minum. Pekerjaan ini sangatlah bersaing juga mengandalkan keberuntungan. Terkadang dapat banyak atau tidak sama sekali, hujan dan dinginnya malam sudah biasa Bapak lakoni. Cukup rumit tapi Bapak tetap saja melakoni pekerjaan itu, katanya “Bersyukur masih dapat kerja Nak!” (sambil tersenyum)
Selama ini Bapak tidak pernah mengajakku melaut, aku jadi penasaran bagaimana rasanya melaut seperti Bapak. Terlalu berbahaya anak perempuan keluar malam, terkena dinginnya udara malam, begadang pula.
Senja tiba, Saat menunggu Mamak datang ke rumah, sembari Bapak menyiapkan alat melautya. Mulai memikul jaring-jaring yang sudah ia bersihkan tadi, menyiapkan lentera, sarung, dan tak lupa juga topi jerami kesayangannya.
“Bapak? Aku boleh ikut Bapak mencari ikan? Jenuh Pak, Delwis dirumah terus.” Tanyaku pada Bapak, memegang tangannya.
“Cukup singgah dirumah Delwis, Mamakmu akan datang menemanimu sebentar lagi.” jelas Bapak dengan tenang
Tak lama kemudian Mamakpun datang, Bapak langsung beranjak pergi melaut, “Jaga Delwis, baik-baik.” Pamit Bapak. Mamak hanya mengangguk tanpa menolehnya.
Di rumah, kami malah saling diam, aku tak tahu apa yang harus aku ceritakan dan tanyakan, rasanya takut. Yang kulihat dulu dan sekarang, sifat Mamak berbeda, lebih banyak diam lalu marah-marah.
“Dulu kan Mamak pernah mengajarimu untuk tidak berlaku kotor, ini kenapa dapur bersimbah debu Del?” Tegur Mamak padaku, sekejap Ia bilang “Del? Cuci bajumu sendiri… jangan nunggu Bapakmu pulang”. Jeda sebentar “Kalau seperti ini namanya, wanita pemalas”.
            Aku hanya diam, menundukkan kepala.
Jenuh dirumah, aku keluar rumah ingin bermain dengan teman-temanku. Aisfa, Tulip, dan Nuri, “Delwis! Sini!” terdengar Nuri memanggilku dari jauh, aku hanya menoleh dan lari ke sumber suara. Kami pergi ke sebuah gajebo kecil, disitu kami bercerita-cerita, tertawa bersenda gurau. Namun keadaan berubah saat Teratai datang, ia datang dan bercerita buruk tentang Bapak,
“Tau nggak? Bapakmu itu punya banyak utang sama Papa aku, tapi waktu di tagih, nggak dikasih-kasih, gara-gara Papamu itu! Aku jadi gagal pergi nyusul Kakakku.” Tegas Tera menatapku,
Aku paling benci siapapun yang mengusik tentang Bapak, turun dari gajebo lalu sontak saja tanganku memukulnya “Jangan pernah hina Bapak, Bapak nggak ada kaitan sama Kamu!!!” Tegasku,
Dia menangis lalu lari, aku menoleh ke gajebo itu teman-temanku terlihat takut, lalu aku menghampiri mereka, tapi mereka malah lari. Tiba-tiba kepalaku pusing, kepalaku sekejap mengingat masa lalu saat Mamak dan Bapak bertengkar, akupun bersender di bawah pohon Kelapa.
Hari sudah mulai petang, Mamak pasti mencariku, akupun melangkah menuju rumah, di sepanjang jalan anak-anak lain bilang “Jangan temani dia, dia galak sama kayak Mamaknya.” Lagi “Nak jangan dekat-dekat dia, dia anak nakal” Aku hanya melototi mereka. Sampai dirumah, Mamak terlihat melotot padaku  tiba-tiba, Plakkk.. Plakk… Mamak memukuliku “Kamu apakan anak Bos itu? Hei Jawab? Kamu? Siapa berani-berani memukulinya, ini balasannya ya!” Tegasnya sambil memukulku, aku lirih menangis dan bilang “Ampun Mak! Ampun Mak!”. Malam itu Mamak langsung pulang meninggalkanku. Sepi rasanya, sakit semua badanku, lirih rasanya nafasku. Bapak? Cepat pulang aku lelah pak.
            Pagi tiba saat Bapak pulang, melihatku “Loh.. Delwis. Ini kenapa mukamu memar?” Aku menangis “Bapak, Delwis sakit, Mamak memukulku lagi” ku peluk Bapak. Seharian Bapak mengompres lukaku lalu menyuapiku dengan segenggem nasi jagung.
“Bapak? Kenapa waktu dulu Mamak memukul Bapak, Bapak nggak balas? Tidak sakit ya pak?” tanyaku. “Nak? Bapak pernah melakukan kesalahan pada Mamakmu, sudah sepatutnya Bapak begini. Yang penting tidak ada dendam dan benci dari Bapak padanya.” Jelas Bapak. “Sabar, harus kuat”.
Bapak hari ini tidak melaut, dia lebih memilih menemaniku, karena tidak ada yang menjagaku, Mamak tidak mau menemani malam ini. Krik… krik.. krik… suara jangkrik malam hari, aku bersandar di samping Bapak, yang sedang berlibur melaut hari ini. “Bapak? Kenapa Delwis hidup seperti ini?” ucapku sembari tidur di pangkuan Bapak. “Delwis, anak Bapak yang kuat dan tangguh, seharusnya kamu biarkan mereka berbicara semau mereka, mereka tidak tahu hidupmu seperti apa, sabar ya Nak! Tuhan Memiliki rencana lebih indah untukmu.” Ujar Bapak sambil mengelus-elus rambutku.
Bapak? Pinjami aku hatimu, agar aku tahu rasanya bersabar dan kuat mengahadapi semua masalah, agar aku belajar menjalani hidup tanpa rasa benci sedikitpun terhadap siapapun yang mencelaku, agar aku bisa berjuang tak mengenal kata menyerah, agar aku bisa terus bersyukur dengan adanya karunia Tuhan yang terindah, yaitu engkau Bapak.
Read more...

Popular Posts

Blogger templates

Aku punya banyak masalah di kehidupanku. Tapi bibirku tidak mengetahuinya. Bibirku selalu tersenyum. - Charlie Chaplin

Blogroll

Jika kita berbohong sekali, maka mengulanginya akan lebih mudah lagi. Dan sekali sudah terbiasa, kita tidak lagi merasa bersalah melakukannya. Dalam dan gelap sekali terowongan bohong itu. -Tere Lije

About

Selamat datang, bacalah apapun yang membuatmu lebih yakin. selain itu Abaikan!!
NonikSoedirman.blogspot. Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Intinya terus belajar Tiada Henti

Instagram

Subscribe

Pages

Blogger templates

Jika kau terlahir miskin, itu bukan salahmu. Tapi jika kau mati dalam keadaan miskin, itu adalah kesalahanmu. -Bill Gates

Latest Post

Like us

Popular Posts

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©